This is Pak Samad’s latest poem, this time taking on an environmental theme.

He read it out at the New Year’s Eve anti-Lynas protest outside the rare earth refinery in Gebeng. Some one thousand protesters had gathered for the occasion.

TANAH YANG TERDERA

Di uzur lidah tahunan ini, tidak terdengarkah kita
geletar tanah yang tersangat resah—secara cekal,
penuh ranggi memarah—goncang alam membantah?

Usah kita berdusta lagi walau demi faedah diri;
juga usah pepura tidak lagi mendengar pesan ngeri;
atau tidak pun terhidu bau cebisan nahas nadir bumi,
atau tidak terasa kencangnya bayu yang ngeri;
tidak terlihat kelibat unggas teramat pilu dan sepi
membantah dan berontak segeram gunung berapi.

Bisik pohon, deru angin, gegar laut, gunung dingin:
kita tidak waras lagi jadi insan kerana bersedia
segila melerai tanah, meracun air, mencemar udara.

Kita mungkin tidak terlihat lagi rerumput mekar,
menyaksi kawanan unggas di angkasa, ikan di laut,
serangga dalam tanah, aneka hewan di atasnya.

Kita akan sering terserempak kerangka biawak,
tetulang tupai, bebangkai paus dan tetaring gajah;
kita bakal terasa gerak leraian tanah luar biasa.

Kita akan hanya terserempak kijang dan pelanduk
dalam sepihan mimpi dan igau yang terlalu buruk,
kita semakin dicekau luka lara yang paling teruk.

Di tahun mendatang ini, sebaik mentari menjelang,
kita akan lebih tersedu mewariskan bumi gersang
kepada cucicit yang terhasak, terdesak dan malang.

Di buku harian mereka tumpah dakwat berdarah.
Kita akan pasti disumpah, jika sejak kini dan bebila,
tidak menentang haloba dan kekejaman manusia.

– Pak A Samad Said

Comments

comments